terkait dengan peningkatan status kesehatan masyarakat

Kamis, 15 Juli 2010

laporan perusahaan

LAPORAN KUNJUNGAN PERUSAHAAN

Nama perusahaan : JOK SYUKUR

Alamat perusahaan : Jln. Raden Patah gang Sunan Gunung Jati Ledug Rt 01/V

Nama pemilik / pengurus : Bapak Warno dan Bapak Ito

Tanggal dan jam pemeriksaan : Tanggal 09 Juni 2010 jam 10.30 WIB

I. Pendahuluan

a. Latar Belakang

Dalam melakukan setiap pekerjaan, sebenaranya kita berisiko untuk mendapat gangguan kesehatan atau penyakit yang ditimbulkan oleh pekerjaan tersebut. Oleh karena itu, penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan , proses maupun lingkungan kerja.

Dengan demikian penyakit akibat kerja merupakan manifestasi dari kesehatan kerja atau kondisi kesehatan dari tenaga kerja atau pekerja. Kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara pekerja dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya baik fisik maupun psikis dalam hal cara/metode kerja, proses kerja dan kondisi kerja yang bertujuan untuk :

a. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat pekerja disemua lapangan kerja setinggi-tingginya baik fisik, menatal maupun kesejahteraan sosialnya.

b. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang diakbiatkan oleh keadaan/kondisi lingkungan kerjanya

c. Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor – faktor yang membahayakan kesehatan

d. Menempatkan dan memelihara pekerja disuatu lingkungan pekerajaan yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya.

Dengan memperhatikan tujuan tersebut diatas, sudah sepatutnya sebuah perusahaan atau tempat pekerjaan memperhatikan kepentingan masyarakat pekerja. Namun saat ini masih banyak tempat kerja yang belum memberikan perhatian dan perlindungan bagi masyarakat pekerja secara optimal. Dengan kondisi yang seperti ini keberhasilan perusahaan/tempat kerja dalam menguasai dan meningkatkan hasil produksi akan terganggu. Oleh karena itu, kami mengamati kegiatan dalam sebuah perusahaan yang berskala kecil/home industri beserta langkah-langkah yang diambil perusahaan dalam memberikan perlindungan kesehatan bagi para pekerjanya, yang berguna untuk menjaga kualitas produksi barang atau jasa tetap maksimal. Perusahaan yang kami amati ini bergerak di bidang reparasi jok transportasi darat meliputi kereta api, mobil dan sepeda motor. Perusahaan ini adalah perusahaan perseorangan yang dimiliki oleh dua orang yang memiliki modal penuh dalam memproduksi barang (jok), dalam menjalankan usaha ini mereka dibantu oleh tiga orang karyawan yang memiliki tugas masing – masing. Dalam melaksanakan pekerjaan ini merka membutuhkan konsentrasi yang tinggi, dan memiliki kemampuan dalam mendesain barang yang akan diproduksi guna meningkatkan kualitas produksi barang.

b. Tujuan Pemeriksaan

1. Mengetahui proses berjalannya produksi jok

2. Mengetahui tugas dan tanggung jawab dari masing-masing pekerja dalam memproduksi jok

3. Mengetahui persyaratan yang diperlukan untuk menjadi tenaga kerja

4. Menganalisa keadaan kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan tenaga kerja dalam reproduksi jok

5. Menjelaskan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan para pekerja

II. Metodologi

Untuk mengumpulkan data guna menunjang laporan pengamatan ini, kami menggunakan teknik wawancara mendalam dengan pemimpim perusahaan tujuan dari wawancara ini adalah untuk megetahui faktor-faktor bahaya yang ada dalam lingkungan kerja serta melakukan evaluasi terhadap bahaya tertentu dan pengaruhnya terhadap karyawan / pekerja serta produksi kualitas barang.

III. Keadaan umum dari perusahaan

a. Denah dan situasi perusahaan / tempat kerja

B

P4 dkuh waluh Jl. Raden patah RS. Margono

Mersi

A

Keteragan :

A = Tempat kerja

B = STIKes Harapan Bangsa

Denah ruangan kerja :

Keterangan :

A = Pintu masuk

B = Tempat menjahit

C = Penyimpanan barang sudah jadi

D = Penyimpanan bahan baku

E = Penyimpanan peralatan kerja

b. Data demografi tenaga kerja : jumlah, jenis kelamin, umur, hari kerja, jam istirahat, pengaturan waktu kerja / shift (kalau ada)

Jumlah Tenaga kerja : 3 orang

Jenis Kelamin : Laki – laki

Umur Pekerja : Rata – rata umur 30 tahun ke atas

Hari Kerja : Senin - Sabtu

Jam Istirahat : Jam 12.00 – 13.00 WIB

IV. Tempat lingkungan kerja

a. Kondisi gedung (syarat konstruksi)

Kondisi gedung pada tempat tersebut kurang layak untuk digunakan, karena di tempat tersebut kotor , banyak sampah berserakan dan alat – alat yang digunakan tidak di simpan di tempatnya. Ruangan tempat kerja tidak terlalu sempit akan tetapi menjadi terlihat sempit karena tidak ada pembagian tempat kerja dan banyak ruangan yang dapat dimanfaatkan tetapi tidak digunakan.

b. Kebersihan dan perawatannya

Kebersihan lingkungan tempat kerja kurang mendapat perawatan, sehingga sisa bahan yang digunakan tampak berserakan dan kaca jendela tampak kotor.

c. Kondisi lingkungan kerja meliputi :

- Cahaya / penerangan

Penerangan di tempat kerja tersebut kurang memadai hanya ada 2 lampu neon.

- Kelembaban udara serta ventilasi

Pada dasarnya di tempat tersebut terdapat jendela, yang berfungsi sebagai ventilasi akan tetapi tidak pernah di buka, sehingga ruangan tersebut menjadi pengap akibat kurangnya ventilasi.

- Bising dan getaran

Kebisingan dan getaran yang ada di tempat kerja tersebut berasal dari mesin jahit tetapi tidak terlalu bising karena suara mesin jahit tersebut tidak terlalu keras.

- Debu/gas/uap

Debu berasal dari bahan baku produksi, seperti kain blusdru, bahan setengah karet, dan bahan oskar.

- Bau-bauan

Bau berasal dari bahan karet yang di gunakan.

V. Proses kerja (flow chart)

Pertama bahan baku di ukur terlebih dahulu sesuai jenis pesanan jok. Kedua bahan baku yang telah di ukur kemudian di gunting. Ketiga bahan yang telah di gunting kemudian di lem. Keempat bahan yang telah di lem di masukin busa kemudian di jahit. Setelah di jahit jok di bersihkan kemudian di pasang.

VI. Faktor-faktor bahaya potensial lingkungan kerja

Faktor-faktor bahaya yang ada dalam lingkungan kerja perlu diperhatikan mulai dari tempat penyimpanan bahan baku, proses kerja sampai ke pendistribusian, antara lain mengenai :

a. Jenis bahan:

b. Cara kerja:

c. Waktu pemaparan:

d. Jam dan waktu kerja: Jam kerja 7 jam

e. Alat pelindung yang digunakan/tidak: Ada alat pelindung diri tetapi tidak digunakan.

(Anies, 2005) mengatakan bahwa dampak yang terjadi akibat pemaparan debu yang terus menerus adalah pneumokoniosis adalah sekumpulan penyakit yang disebabkan oleh penimbunan debu-debu di dalam jaringan paru-paru. Biasanya berupa debu mineral. Tergantung dari jenis debu mineral yang ditimbun, nama penyakitnya berbeda-beda. Gejalanya pun berbeda-beda, tergantung dari derajat dan banyaknya debu yang ditimbun di dalam paru-paru.

Ketika bernapas udara yang mengandung debu masuk ke dalam paru-paru. Tidak semua debu dapat menimbun di dalam jaringan paru-paru. Karena tergantung besar ukuran debu tersebut. Debu-debu yang berukuran 5-10 mikron akan ditahan oleh jalan napas bagian atas, sedangkan yang berukuran 3-5 mikron ditahan dibagian tengah jalan napas. Partikel-partikel yang berukuran 1-3 mikron akan ditempatkan langsung dipermukaan jaringan dalam paru-paru.

Secara umum gejalanya antara lain batuk kering, sesak napas, kelelahan umum, berat badan berkurang dan lan-lain.

VII. Fasilitas sanitasi

Di tempat kerja fasilitas sanitasi yang dimiliki adalah tempat sampah, despenser sebagai penyedia air minum, untuk tempat cuci tangan, WC/ kamar mandi, tempat ganti pakaian, ditempat kerja ini tidak ada. Untuk tempat istirahat yang biasanya digunakan adalah halaman gudang atau pulang kerumah masing-masing disaat waktu istirahat dan makan siang.

VIII. Fasilitas kesehatan dan keselamatan kerja

Meliputi :

a. Sarana kesehatan : untuk sarana kesehatan di tempat kerja tidak ada

Jika memerlukan sesuatu seperti cuci tangan, mandi dan istirahat pulang kerumah masing - masing

b. Tenaga kesehatan : tidak ada ditempat kerja, kalau sakit berobat sendiri ke dokter dengan biaya ditanggung perusahaan

c. Sarana keselamatan kerja :

- umum : alat pemadam kebakarn tidak disediakan

- Personal : alat pelindung diri yang ada hanya masker namun jarang dipakai

- Tenaga keselamatan kerja : untuk tenaga ini mereka mengandalkan tenaga dan kemampuan mereka sendiri secara mandiri, namun disaat ada sesuatu yang tidak bisa mereka atasi mereka akan meminta bantuan kepada orang yang ahli dibidangnya seperti ahli mesin jahit untuk reparasi mesin jahit yang rusak.

-

IX. Kesimpulan dan penilaian

Meliputi :

a. Kesimpulan umum :

Kondisi perusahaan secara umum dari segi keselamatan dan keamanan tenaga kerja masih sangat kurang. Karena dalam melakukan pekerjaan mereka tidak terlalu memperhatikan kesehatan. Namun, dari segi penghasilan perusahaaan memiliki keadaan yang stabil dan jarang mengalami kerugian.

b. Kesimpulan khusus :

- Bahaya kesehatan dan keselamatan kerja yang ada / ditemukan dalam lingkungan kerja adalah ;

1. Risiko tertusuk jarum mesin jahit

2. Risiko cidera akibat terkena gunting tajam.

3. Terjatuh akibat barang-barang yang berantakan

4. Kelelahan akibat posisi yang statis/monoton

- Jenis penyakit yang ada diantara karyawan (keadaan kesehatan karyawan)

1. Penyakit ISPA

2. Gangguan saluran perkemihan akibat terlalu banyak duduk

3. Rawan infeksi pada system gastrointestinal akibat kurangnya personal higine

c. Penilaian :

- Buruk :

Karena persyaratan kesehatan dan keselamatan tenaga kerja kurang terpenuhi.

X. Rekomendasi

a. Pengendalian melalui peraturan perundang-undangan

Tenaga kerja di sektor informal, tidak jarang memiliki resiko gangguan kesehatan yang lebih tinggi akibat ketidaktahuan. Pembinaan kesehatan dan pencegahan kecelakaan kerja terhadap tenaga kerja di sektor-sektor formal telah berjalan dengan baik, di bawah pengawasan Departemen Tenaga Kerja serta instansi terkait. Peraturan perundangan tentang ketenagakerjaan lebih ditujukan kepada tenaga kerja sektor-sektor formal. Tidak demikian halnya dengan sektor informal yang nyaris tanpa pembinaan yang terpola. Tidak jelas pula instansi mana yang harus mengurus. Kesehatan kerja sektor informal memang berbeda dengan sektor formal. Perbedaan ini antara lain terletak pada kewenangan instansional terhadap sektor informal yang belum jelas tersebut, ditambah tidak adanya pengorganisasian tenaga kerja dengan baik. Bahkan mereka nyaris merupakan tenaga kerja yang berdiri secara individual atau kelompok-kelompok kecil.

Pada hakikatnya, sebagaimana tenaga kerja di sektor formal, misalnya yang bekerja pada pabrik atau industri, mereka memerlukan pembinaan. Tenaga kerja ini pun berhak memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik, mental maupun sosial dengan usaha-usaha promotif, preventif dan kuratif terhadap penyakit atau gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh pekerjaan, lingkungan kerja serta penyakit-penyakit umum.

b. Pengendalian secara administrasi / organisasi

Dalam hal ini, kami menyarankan agar struktur organisasi dibuat jelas dan memiliki job deskripsi masing – masing. Hal ini berguna agar kinerja perusahaan tidak simpang siur dan tidak ada tenaga kerja yang merasa terzolimi dalam melaksanakan tugasnya masing-masing

c. Pengendalian secara teknis :

Substitusi : untuk bahan baku sebisa mungkin tidak memakai bahan baku yang sudah lama dan tidak berkualitas,karena hal ini akan berakibat kepada dampak kesehatan para pekerjanya, barang lama yang sudah tidak terpakai sebaiknya dibuang dan dibakar atau dijual ke tempat rongsokan, untuk alat kerja sendiri kita sarankan agar selalu dilakukan pengecekan secara rutin untuk mengindari kerusakan disaat bekerja yangbisa saja akan menimbulkan kecelakaan buat para pekerja, untuk proses pengolahan bahan baku sebisa mungkin dibawah pengawasan yang baik agartidak terjadi kesalahan saat bekerja.

Isolasi : kami telah menyarankan kepadapara pekerja agar selalu menjaga diri dan sebisa mungkin mencegah saripada mengobati. Jadi, untuk melaksanakan semua itu perusahaan harus benar – benar memperhatikan kebutuhan keamanan dan keselamatan para pekerja dengan memberlakukan kewajiban memakai sarung tangan dan masker saat bekerja.

Perbaikan sistem ventilasi : untuk ventilasi ruangan di tempat kerja sudah cukup namun penempatan ventilasinya yang kurang baik sehingga membuat cahaya tidak masuk kedalam ruangan pada sang hari. Dan membuat ruangan nampak gelap. Pada saat bekerja pun pintu selalu dibiarkan terbuka agar cahaya bisa masuk dengan maksimal.

d. Pengendalian melalui jalur kesehatan :

Pemeriksaan Kesehatan

Aspek penting dalam pengendalian penyakit akibat kerja adalah deteksi dini atau pemeriksaan kesehatan sehingga pengobatan dapat diberikan secepat mungkin, agar penyakit atau angguan keshatan dapat pulih tanpa menimbulkan kecacatan. Setidaknya tidak menimblkan kecacatan leibh lanjut. Deteksi dini seharusnya telah merpakan ypaya yang tidak terpisahkan dalam kesehatan kerja.

Dalam setiap pekerjaan, pemeriksaan kesehatan dirancang untuk memberi jaminan bahwa tenaga kerja tersebut cocok untuk dipekerjakan serta tetap dalam keadaan bugar selama masa kerjanya. Penyimpangan kesehatan harus dideteksi sedini mungkin. Dalam hal ini diperlukan :

1) Pemeriksaan kesehatan sebelum penempatan

Pemeriksaan ini dilakukan sebelum seseorang dipekerjakan atau ditempatkan pada pos pekerjaan tertentu dengan ancaman terhadap kesehatan yang mungkin tejadi.

Informasi yang diberikan memungkinkan dokter dan manajemen perusahaaan mengetahui kondisi tenaga kerja tersebut dan menempatkan pada pos yang sesuai.

Pemeriksaan fisik yang ditunjang dengan pemeriksaaan lain seperti darah, urin, radiologis serta organ tertentu, seperti mata dan telinga, merupakan data dasar yang sangat berguna apabila terjadi gangguan kesehatan tenaga kerja setelah sekian lama bekerja.

Pemeriksaan kesehatan sebelum penempatan seyogianya memperhatikan faktor-faktor resiko individual seperti usia, jenis kelamin, kerentanan individual. Faktor-faktor lain yang berpengaruh antar lain gizi, keadaan penyakit masa lalu dan sekarang serta paparan sebelum atau yang sedang dihadapai dengan satu atau leibh bahaya kesehatan.

2) Pemeriksaan kesehatan berkala

Pemeriksaan kesehatan berkala seyogianya dilaksanakan dengan selang waktu teratur setelah pemeriksaan awal sebelum penempatan. Pada check-up rutin tidak selalu diperlukan pemeriksaan medis lengkap, terutama bila tidak ada indikasi yang jelas.

Cakupan dan keberkalaan pemeriksaan kesehatan tersebut hendaknya didasarkan pada sifat dan luasnya resiko yang terlibat. Pemeriksaan ini juga harus difokuskan pada organ dan system tubuh yang memungkinkan terpengaruh bahan-bahan berbahaya di tempat kerja sebagai contoh audiometrik adalah uji yang sangat penting bagi tenaga kerja yang bekerja pada lingkungan kerja yang bising. Pemeriksaan radiologis dada (foto thorax) penting untuk mendeteksi tenaga kerja yang beresiko menderita pneumokoniosis, karena lingkungan kerja tercemar debu.

3) Serta uji spesifik

Pada banyak kasus, paparan kerja terhadap bahan-bahan berbahaya dan efek-efek kesehatan yang diakibatkannya, dapat dievaluasi dengan uji-uji spesifik bagi paparan bersangkutan.

Pendidikan Kesehatan

Untuk pendidikan kesehatan kami menyarankan mereka agar selalu mengikuti program kesehatan yang mereka kenal. Contohnya seperti penyuluhan, kemudian menyediakan media baca buat para pekerja seperti koran atau majalah tentang kesehatan dan selalu berkonsultasi kepada tenaga kesehatan tentang perkembangan kesehatan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar diharapkan aman